MANUAL INSTRUMEN ASESSMEN
MEMBACA PERMULAAN
Disusun Oleh:
Kelompok 5
Annisa
Nugraha Wahidah 1302960
Bayu
Pamungkas 1303098
Kartika
N.R 1302540
Mega
Silvia Dewi 1302706
JURUSAN PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2013
MANUAL
INSTRUMEN ASESMEN
Dalam jumlah siswa yang banyak asesmen dilakukan dengan
membagi proses asesmen menjadi 2 tahapan asesmen yakni Tahap Klasikal dan Tahap
Individual. Proses asesmen Tahap Klasikal dilakukan dengan prosedur pelaksanaan
sebagai berikut :
Tahap Klasikal ini dilakukan dengan melakukan proses
wawancara, observasi kelas, pengumpulan dokumentasi nilai, tes klasikal dan
penentuan tingkat kemampuan anak untuk kemudian dilanjutkan dalam asesmen Tahap
Individual. Masing-masing proses dari asesmen klasikal dijelaskan sebagai
berikut:
A. Wawancara
Wawancara dilakukan
oleh asesor kepada guru untuk memeperoleh informasi secara lengkap yang berguna
bagi pelaksanaan tahap asesmen selanjutnya. Wawancara dapat dilakukan sebelum
proses observasi dengan tujuan agar mengetahui gambaran secara umum keadaan
siswa dikelas termasuk mereka yang diduga mengalami kesulitan belajar membaca. Informasi
yang diperoleh tersebut bukan untuk menjudgment anak yang diduga mengalami
kesulitan membaca dan mengabaikan anak yang lain pada tahap observasi kelas,
tetapi lebih dimaksudkan agar anak-anak yang diduga mengalami kesulitan dapat
terobservasi dengan lebih fokus namun asesor tetap dapat mengobservasi anak-anak yang lain
mengingat jumlah siswa yang cukup banyak.
Ketika asesmen
dilakukan dengan siswa dalam jumlah sedikit dan memungkinkan diobservasi secara
detail ke seluruh siswa, observasi dapat dilakukan terlebih dahulu sebelum
proses wawancara. Kemudian data dilengkapi dengan hasil wawancara untuk
mendukung data yang telah dikumpulkan dari proses observasi.
B. Observasi Kelas
Observasi kelas
dimaksudkan untuk memperoleh gambaran secara umum dari keadaan kelas dengan
cara mengamati langsung proses pembelajaran di kelas. Ketika asesmen dilakukan
pada jumlah siswa yang banyak observasi dapat dilakukan setelah wawancara agar
diperoleh sedikit gambaran tentang hal-hal apa sajakah yang diobservasi. Namun,
jika asesmen dilakukan pada siswa dengan jumlah sedikit dan dimungkinkan dapat
terobservasinya seluruh siswa secara fokus maka observasi dapat dilakukan
sebelum proses wawancara dan selanjutnya hasil dari wawancara merupakan
konfirmasi dari proses observasi.
C. Dokumentasi
Dokumentasi
bertujuan agar diperoleh data berupa nilai maupun hasil belajar siswa lainya
untuk melengkapi data yang telah asesor peroleh dari proses wawancara dan
observasi. Dalam asesmen membaca dokumentasi yang diperlukan adalah data-data
berupa nilai dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Dengan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi inilah kemudian dapat
dilakukan analisis sederhana mengenai keadaan siswa yang dapat melengkapi hasil
wawancara dan observasi dan dapat kemudian digunakan untuk tahap asesmen
selanjutnya.
D. Tes klasikal
Dalam test klasikal
ini digunakan instrumen tes dengan kisi-kisi soal, petunjuk penilaian dan check list penilaian yang telah
termuat dalam buku instrument. Untuk memudahkan dalam proses penilaian, kami
melengkapi masing-masing butir soal dengan pedoman penilaian serta contoh
penilaian dari masing-masing soal yang akan diteskan.
Contoh:
|
Petunjuk Penilaian:
Tiap suku kata pada nomor 2 jika dibaca
benar bernilai 2, jika dibaca benar 1 huruf bernilai 1 dan jika tidak ada
yang benar benilai 0.
Contoh:Jika “ba” dibaca benar “ba” maka
bernilai 2. “ba” dibaca benar “b” atau “a” maka bernilai 1. Jika “ba” tidak
ada yang dibaca benar maka bernilai 0.
Skor maksimal:140
|
E.
Prosedur
Pelaksanaan Asessmen Klasikal
1.
Asesor mengasesmen siswa satu per satu,
tes ini dilakukan diruang khusus (perpustakaan) yang dapat memungkinkan
didengarnya dengan baik apa yang dibaca siswa sehingga penilaian lebih objektif
dan mudah dilakukan.
2.
Posisi duduk siswa
Keterangan
:
=
meja
= guru
= siswa
3.
Sebelum asesmen klasikal dimulai, asesor
menyiapkan kartu huruf, soal tes, dan kesiapan siswa mengikuti tes membaca.
4.
Asesor membacakan petunjuk pengerjaan
soal, apabila siswa masih belum jelas dapat bertanya kepada asesor. Adapun petunjuk
pengerjaan soal sebagai berikut (tertulis dalam soal) :
a) Bacalah
huruf yang ditunjukkan guru/asessor ini!
b) Bacalah
suku kata dibawah ini!
c) Bacalah
kata dibawah ini!
d) Bacalah
kalimat dibawah ini!
5.
Masing-masing asesor membawa lembar
penilaian tes membaca.
6.
Siswa mulai membaca dengan bantuan
petunjuk asessor tentang apa yang akan dibaca.
7.
Asesor mengamati proses membaca siswa
dan mengisi form penilaian.
8.
Asesor perlu memberikan reward berupa
pujian atau tepukan ketika siswa mampu membaca untuk memotivasi.
9.
Asesor perlu memperhatikan manajemen
waktu mengingat jumlah siswa peserta tes klasikal yang cukup banyak.
10. Asesor
mengumpulkan isian form penilaian membaca siswa untuk dianalisis lebih lanjut.
F.
Penentuan Tingkat Kemampuan Anak
Dari nilai yang diperoleh siswa yang
mengikuti test asesmen klasikal dianalisis siapa saja siswa yang dikategorikan
dalam Independent Level, Instructional Level dan Frustration Level untuk
selanjutnya siswa dengan kategori Instructional Level dan Frustation Level
masuk dalam tahap individual dengan kriteria penentuan level sebagai berikut:
1. Anak
yang masuk Independent Level adalah
anak yang memperoleh nilai lebih dari 75% total nilai maksimal
2. Anak
yang masuk Instructional Level
adalah anak yang memperoleh nilai 50% sampai 75% dari total nilai maksimal
3.
Anak yang masuk Frustation Level adalah anak yang memperoleh nilai kurang dari 50%
dari total nilai maksimal
Program Excel untuk
mengolah data dari nilai tes asesmen klasikal guna penentuan tingkat kemampuan
anak dari independent level, instructional level, dan frustation level kami
lampirkan dalam CD. Sheet1 berisi contoh dari pengolahan data sejumlah siswa
dan sheet 2 berisi data kosong yang dapat diinput secara langsung dari
masing-masing nilai siswa dan otomatis dapat muncul kategori tingkat kemampuan
masing-masing siswa (Independent Level, Instructional Level, Dan Frustation
Level).
|
Ketika dalam hasil tes
klasikal ditemukan kasus siswa yang diduga mengalami kesulitan membaca tidak masuk dalam
instructional level maupun frustation level maka dibutuhkan konfirmasi dari
hasil wawancara dan observasi sebelumnya.
|
Jika asesmen
dilakukan pada siswa dalam jumlah sedikit misalnya di SLB atau sekolah dengan
siswa yang sedikit, maka langsung dapat dilakukan asesmen Tahap Individual tanpa
melalui asesmen Tahap Klasikal.
Adapun asesmen
Tahap Klasikal dilakukan dengan prosedur pelaksanaan sebagai berikut:
G.
Asesmen Individual
Dalam tahap individual ini dilakukan tes individual dan selanjutnya dilakukan analisis
varian strategi dan varian eror masing-masing siswa untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan siswa, hambatan membaca yang siswa alami, sikap siswa dan
hal-hal lain untuk memperoleh gambaran secara utuh tentang kemampuan dan
kesulitan membaca siswa serta penyebab kesulitan membaca yang dialaminya mungkin dikarenakan pengalaman belajar yang kurang,
metode pembelajaran yang tidak tepat ataupun hal-hal lain yang turut
berpengaruh.
Konfirmasi dan konsultasi guru dan orang tua dapat asesor lakukan
untuk memperoleh informasi yang
lengkap guna melengkapi hasil analisis masing-masing siswa.
H.
Rekomendasi Program
Dari hasil deskripsi kemampuan,
hambatan, sikap siswa dan
faktor penyebab kesulitan membaca siswa maka selanjutnya dapat susun
rekomendasi program yang sesuai
dengan kemampuan, kesulitan dan kebutuhan masing-masing siswa.