Rabu, 19 Maret 2014

tugas manual instrumen


MANUAL INSTRUMEN ASESSMEN MEMBACA PERMULAAN
         Disusun Oleh:
                     Kelompok 5
            Annisa Nugraha Wahidah               1302960
            Bayu Pamungkas                              1303098
            Kartika N.R                                       1302540
            Mega Silvia Dewi                               1302706

JURUSAN PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2013
MANUAL INSTRUMEN ASESMEN
Dalam jumlah siswa yang banyak asesmen dilakukan dengan membagi proses asesmen menjadi 2 tahapan asesmen yakni Tahap Klasikal dan Tahap Individual. Proses asesmen Tahap Klasikal dilakukan dengan prosedur pelaksanaan sebagai berikut :
Tahap Klasikal ini dilakukan dengan melakukan proses wawancara, observasi kelas, pengumpulan dokumentasi nilai, tes klasikal dan penentuan tingkat kemampuan anak untuk kemudian dilanjutkan dalam asesmen Tahap Individual. Masing-masing proses dari asesmen klasikal dijelaskan sebagai berikut:
A.    Wawancara
Wawancara dilakukan oleh asesor kepada guru untuk memeperoleh informasi secara lengkap yang berguna bagi pelaksanaan tahap asesmen selanjutnya. Wawancara dapat dilakukan sebelum proses observasi dengan tujuan agar mengetahui gambaran secara umum keadaan siswa dikelas termasuk mereka yang diduga mengalami kesulitan belajar membaca. Informasi yang diperoleh tersebut bukan untuk menjudgment anak yang diduga mengalami kesulitan membaca dan mengabaikan anak yang lain pada tahap observasi kelas, tetapi lebih dimaksudkan agar anak-anak yang diduga mengalami kesulitan dapat terobservasi dengan lebih fokus namun asesor  tetap dapat mengobservasi anak-anak yang lain mengingat jumlah siswa yang cukup banyak.
Ketika asesmen dilakukan dengan siswa dalam jumlah sedikit dan memungkinkan diobservasi secara detail ke seluruh siswa, observasi dapat dilakukan terlebih dahulu sebelum proses wawancara. Kemudian data dilengkapi dengan hasil wawancara untuk mendukung data yang telah dikumpulkan dari proses observasi.
B.     Observasi Kelas
Observasi kelas dimaksudkan untuk memperoleh gambaran secara umum dari keadaan kelas dengan cara mengamati langsung proses pembelajaran di kelas. Ketika asesmen dilakukan pada jumlah siswa yang banyak observasi dapat dilakukan setelah wawancara agar diperoleh sedikit gambaran tentang hal-hal apa sajakah yang diobservasi. Namun, jika asesmen dilakukan pada siswa dengan jumlah sedikit dan dimungkinkan dapat terobservasinya seluruh siswa secara fokus maka observasi dapat dilakukan sebelum proses wawancara dan selanjutnya hasil dari wawancara merupakan konfirmasi dari proses observasi.
C.    Dokumentasi
Dokumentasi bertujuan agar diperoleh data berupa nilai maupun hasil belajar siswa lainya untuk melengkapi data yang telah asesor peroleh dari proses wawancara dan observasi. Dalam asesmen membaca dokumentasi yang diperlukan adalah data-data berupa nilai dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi inilah kemudian dapat dilakukan analisis sederhana mengenai keadaan siswa yang dapat melengkapi hasil wawancara dan observasi dan dapat kemudian digunakan untuk tahap asesmen selanjutnya.


D. Tes klasikal
Dalam test klasikal ini digunakan instrumen tes dengan kisi-kisi soal, petunjuk penilaian dan check list penilaian yang telah termuat dalam buku instrument. Untuk memudahkan dalam proses penilaian, kami melengkapi masing-masing butir soal dengan pedoman penilaian serta contoh penilaian dari masing-masing soal yang akan diteskan.
Contoh:
Petunjuk Penilaian:
Tiap suku kata pada nomor 2 jika dibaca benar bernilai 2, jika dibaca benar 1 huruf bernilai 1 dan jika tidak ada yang benar benilai 0.
Contoh:Jika “ba” dibaca benar “ba” maka bernilai 2. “ba” dibaca benar “b” atau “a” maka bernilai 1. Jika “ba” tidak ada yang dibaca benar maka bernilai 0.
    Skor maksimal:140











E.     Prosedur Pelaksanaan Asessmen Klasikal

1.      Asesor mengasesmen siswa satu per satu, tes ini dilakukan diruang khusus (perpustakaan) yang dapat memungkinkan didengarnya dengan baik apa yang dibaca siswa sehingga penilaian lebih objektif dan mudah dilakukan.
2.      Posisi duduk siswa

 

                                                                                            Keterangan :
 

                                                                                                            = meja

                                                                                                           = guru


      = siswa
 








3.         Sebelum asesmen klasikal dimulai, asesor menyiapkan kartu huruf, soal tes, dan kesiapan siswa mengikuti tes membaca.
4.         Asesor membacakan petunjuk pengerjaan soal, apabila siswa masih belum jelas dapat bertanya kepada asesor. Adapun petunjuk pengerjaan soal sebagai berikut (tertulis dalam soal) :
a)      Bacalah huruf yang ditunjukkan guru/asessor ini!
b)      Bacalah suku kata dibawah ini!
c)      Bacalah kata dibawah ini!
d)     Bacalah kalimat dibawah ini!
5.         Masing-masing asesor membawa lembar penilaian tes membaca.
6.         Siswa mulai membaca dengan bantuan petunjuk asessor tentang apa yang akan dibaca.
7.         Asesor mengamati proses membaca siswa dan mengisi form penilaian.
8.         Asesor perlu memberikan reward berupa pujian atau tepukan ketika siswa mampu membaca untuk memotivasi.
9.         Asesor perlu memperhatikan manajemen waktu mengingat jumlah siswa peserta tes klasikal yang cukup banyak.
10.     Asesor mengumpulkan isian form penilaian membaca siswa untuk dianalisis lebih lanjut.

F.     Penentuan Tingkat Kemampuan Anak
Dari nilai yang diperoleh siswa yang mengikuti test asesmen klasikal dianalisis siapa saja siswa yang dikategorikan dalam Independent Level, Instructional Level dan Frustration Level untuk selanjutnya siswa dengan kategori Instructional Level dan Frustation Level masuk dalam tahap individual dengan kriteria penentuan level sebagai berikut:
1.      Anak yang masuk Independent Level adalah anak yang memperoleh nilai lebih dari 75% total nilai maksimal
2.      Anak yang masuk Instructional Level adalah anak yang memperoleh nilai 50% sampai 75% dari total nilai maksimal
3.      Anak yang masuk Frustation Level adalah anak yang memperoleh nilai kurang dari 50% dari total nilai maksimal

Program Excel untuk mengolah data dari nilai tes asesmen klasikal guna penentuan tingkat kemampuan anak dari independent level, instructional level, dan frustation level kami lampirkan dalam CD. Sheet1 berisi contoh dari pengolahan data sejumlah siswa dan sheet 2 berisi data kosong yang dapat diinput secara langsung dari masing-masing nilai siswa dan otomatis dapat muncul kategori tingkat kemampuan masing-masing siswa (Independent Level, Instructional Level, Dan Frustation Level).
Ketika dalam hasil tes klasikal ditemukan kasus siswa yang diduga mengalami kesulitan membaca tidak masuk dalam instructional level maupun frustation level maka dibutuhkan konfirmasi dari hasil wawancara dan observasi sebelumnya.
Catatan:




Jika asesmen dilakukan pada siswa dalam jumlah sedikit misalnya di SLB atau sekolah dengan siswa yang sedikit, maka langsung dapat dilakukan asesmen Tahap Individual tanpa melalui asesmen Tahap Klasikal.

Adapun asesmen Tahap Klasikal dilakukan dengan prosedur pelaksanaan sebagai berikut:
G.    Asesmen Individual
Dalam tahap individual ini dilakukan tes individual dan selanjutnya dilakukan analisis varian strategi dan varian eror masing-masing siswa untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa, hambatan membaca yang siswa alami, sikap siswa dan hal-hal lain untuk memperoleh gambaran secara utuh tentang kemampuan dan kesulitan membaca siswa serta penyebab kesulitan membaca yang dialaminya mungkin dikarenakan pengalaman belajar yang kurang, metode pembelajaran yang tidak tepat ataupun hal-hal lain yang turut berpengaruh.
Konfirmasi dan konsultasi guru dan orang tua dapat asesor lakukan untuk memperoleh informasi yang lengkap guna melengkapi hasil analisis masing-masing siswa.
H.       Rekomendasi Program
Dari hasil deskripsi kemampuan, hambatan, sikap siswa dan faktor penyebab kesulitan membaca siswa maka selanjutnya dapat susun rekomendasi program yang sesuai dengan kemampuan, kesulitan dan kebutuhan masing-masing siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar